Dikota-kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta, dan sakit perut. 4. Kolera. Kolera disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae saat Anda mengonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi oleh feses orang yang mengidap penyakit ini. Anda juga bisa terjangkit penyakit kolera akibat bahan makanan dicuci dengan air yang terkena pencemaran. Gejala
Perut merupakan salah satu bagian tubuh manusia yang didalamnya terdapat berbagai organ organ yang memiliki fungsi yang penting bagi manusia. Seringkali kita merasakan sakit pada perut tanpa mengetahui penyebabnya. Ada beberapa macam penyakit dalam perut yang menyebabkan perut mengalami sakit dan nyeri yang Kelainan dalam PerutBerikut adalah Macam Macam Penyakit dalam Perut yang dapat menyerang kapan saja, simak ulasannyaMaagPenyakit yang terjadi didalam perut yang pertama ialah penyakit maag. Maag adalah penyakit dimana lambung mengalami infeksi akibat bakteri gram negatif Helicobacterylori. Belteri ini memiliki dinding sel membrane yang berselubung lipida. Penyakit maag adalah salah satu penyakit yang sering diderita oleh manusia modern saat ini. Penyakit maag memiliki beberapa tingkatan dari maag yang akut hingga maag kronis. Penderita penyakit maag sering mengalami sakit dan nyeri pada perut mereka apabila penyakitnya penyakit maag ini diantaranya para penderita tidak menjaga pola hidup mereka seperti tidak memperhatikan waktu makan sehingga mereka tidak mendapatkan asupan sesuai stress dapat membuat keadaan lambung parah sehingga dapat menyebabkan penyakit pedas dan asam, makanan pedas dan asam akan memberikan tambahan cita rasa tersendiri pada makanan. Tetapi ternyata mengonsumsi makanan pedas dan asam terlalu banyak dapat menyebabkan penyakit maag, karena produksi asam lambung adalah kondisi dimana feses atau tinja yang dikeluarkan dari dalam tubuh bersifat encer. Selain itu para penderita diare juga lebih sering buang air besar. Penyakit diare ini menyebabkan penderitanya lemah dan juga membuat tenaga mereka habis karena terlalu sering buang air besar. Penyakit diare ini dapat menyerang siapapun baik anak anak maupun orang dewasa, laki laki dan perempuan. Di Indonesia sendiri, penyakit diare adalah salah satu masalah sistem pencernaan yang sering terjadi. Penyakit diare ini dapat berlangsung selama berhari hari bahkan berminggu minggu. Penyakit diare yang berlangsung lama akan menyebabkan kondisi tubuh mengalami dehidrasi dan menyebabkan berbagai penyakit penyakit diare diantaranya Bakteri, penyebab penyakit diare yang sering terjadi ialah mengonsumsi makanan yang sudah terkontaminasi bakteri dan penyebab diare yang lain ialah mengonsumsi obat obatan tertentu. Bagi beberapa orang mereka memiliki alergi terhadap obat obatan alkohol, mengonsumsi alkohol dapat membuat tubuh mengalami kerusakan. Salah satunya ialah merusak sistem pencernaan dan menyebabkan penyakit diare.[AdSense-B]HemoroidHemoroid atau yang biasa disebut dengan penyakit ambeien maupun wasir adalah penyakit dalam perut selanjutnya. Hemoroid adalah kondisi dimana terjadi pembengkakan maupun peradangan pada pembuluh darah yang terdapat disekitar anus dan bagian rektum bawah. Gejala yang dialami oleh penderita penyakit ini diantaranya ialah terdapat lendir ketika buang air besar, mengalami gatal gata di daerah sekitar anus dan juga mengalami pendarahan ketika buang air besar. Penyebab dari hemoroid sendiri sampai saat ini belum dapat ditentukan secara pasti, namun ada beberapa penyebab umun terjadinya penyakit penyakit kelebihan berat badan sering menjadi pemicu beberapa penyakit termasuk penyebab beban berat, pemicu penyakit hemoroid yang lain ialah sering mengangkat beban yang jumlahnya keturunan dan usia, usia yang semakin menua membuat tubuh lebih berisiko terkena beberapa penyakit ditambah oleh faktor adalah suatu kondisi dimana terjadi infeksi bakteri dan menyebabkan penderitanya mengalami dehidrasi yang cukup parah. Kolera juga bisa disebut penyakit muntaber. Kolera ini biasanya terjadi dikawasan padat penduduk. Saat ini sendiri, pemerintah Indonesia sedang gencar gencarnya melakukan penyuluhan penyakit kolera dan melakukan imununisasi dan juga vaksinasi untuk mencegah terjadinya penyakit kolera bagi anak anak. Penderita penyakit kolera ini biasanya mengalami kram pada perut, mual mual dan juga penyakit koleraBakteri, kolera disebabkan oleh bakteri yaitu vibrio oleh penderita kolera, penyakit kolera ini adalah penyakit yang dapat menular. Bakteri kolera ini dapat menular melalui perantara asam lambung rendah, bakteri kolera akan lebih mudah hidup di lingkunagn yang memiliki kadar macam penyakit pada perut selanjutnya ialah sembelit. Sembelit adalah kondisi dimana seseorang memiliki kesulitan dalam buang air besar. Para penderita sembelit biasanya hanya kurang dari 3 kali dalam seminggu. Normalnya, manusia buang air besar dalam seminggu 5 hingga 7 kali sesuai dengan kondisi orang tersebut. Gejala yang dialami oleh para penderita sembelit ialah sakit ketika buang air besar, dan memiliki perut yang penyakit sembelitKurang mengonsumsi air, penyebab sulit buang air besar yang pertama ialah kurang mengonsumsi air putih. Normalnya, dalam sehari manusia harus mengonsumsi setidaknya 8 gelas dalam mengonsumsi makanan berserat, kurangnya mengonsumsi serat dapat menyebabkan penyakit adalah sebuah penyakit yang ditandai dengan terjadinya infeksi pada usus. Disentri juga menyebabkan darah keluar bersama feses cair atau yang biasa disebut diare. Para penderita disentri memiliki beberapa gejala seperti kram pada perut, muntah muntah, mengalami mual dan juga demam yang penyakit disentriBakteri shigela, bakteri shigela menyebabkan disentri yaitu jenis disentri penyebab selanjtnya ialah amoba yang bernama Entamoeba Histolytica yang menyebabkan disentri jenid disentri amoeba. Disentri ini terjadi pada daerah tropis.[AdSense-A]Hernia HiatusHernia adalah suatu kondisi dimana jaringan otot sekitar tubuh yang melemah, terkhusus pada bagian perut. Hernia hiatus dapat dialami ketika sebagian lambung naik ke arah diafragma karena terdorong. Hiatus sendiri adalah lubang yang terletak pada diafragma yang berfunsgi sebagai penghumung antara esophagus dan lambung. Para penderita penyakit ini memiliki berbagai gejala seperti muntah darah, kesulitan dalam menelan dan juga bernafas serta sakit pada bagian penyakit hernia pada diafragma, adanya luka pada diafragma akan meningkatkan risiko penyakit obesitas dapat menyebabkan berbagai penyakit termasuk hernia LambungKanker lambung adalah suatu kondisi dimana sel sel kanker menyerang sel sel pada lapisan lambung yang memproduksi mukus. Para penderita penyakit kanker lambung memiliki beberapa gejala seperti nyeri pada perut dan juga tulang dada, mual mual dan muntah serta sulit menelan kanker lambungSel kanker, penyebab penyakit kanker ialah karena adanya sel kanker dalam tubuh. Sel kanker ini dapat menyerang dan tumbuh secara cepat di dalam tubuh dan menyerang organ organ merokok dapat menyebabkan risiko terkena kanker lambung meningkat,Infeksi lambung, hal lain yang dapat meningkatkan risiko kanker lambung ialah infeksi pada lambung dalam waktu yang buntuMacam macam penyakit pada perut selanjutnya ialah usus buntu,. Usus buntu sendiri adalah organ dalam tubuh yang berbentuk seperti kantong kecil dan tipis yanh berukuran 5 sampai 1- cm. penyakit usus buntu ialah peradangan ataupun pembengkakan yang terjadi pada usus buntu. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja , muda maupun tua. Gejala untuk penyakit ini ialah mengalami nyeri yang parah pada bagian perut, kesulitan untuk membuang gas serta mengalami mual dan muntah penyakit usus buntuBatu empedu, batu empedu dapat menyebabkan penyakit usus bakteri, peradangan yang terjadi pada usus buntu pada umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella dab dispesia ini seringkali disamakan dengan penyakit maag. Padahal maag dan dispesia adalah dua hal yang berbeda. Dispesia sendiri berasal dari bahasa yunani, yaitu “dys” yang memiliki arti buruk dan “peptei” yang memiliki arti pencernaan. Istilah dispesia seringkali disebut untuk menggambarkan kondisi pencernaan yang buruk dan tidak baik. Dispesia sendiri adalah kondisi dimana terdapat berbagai gejala nyeri maupun tidak enak pada bagian perut bagian atas. Setiap orang pasti pernah merasakan dispesia ini setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka. Gejala dari dispesia ialah mual mual, muntah dan dada yang terasa dispesiaPenyakit lain, dispesia bisa terjadi ,kareba adanya penyakit lain yang sudah bersarang didalam tubuh sebelumnya. Misalnya saja mmag kronis, asam lambung dan masalah sistem pencernaan lainnya tidak dapat ditemukan secara pasti, dispesia tipe ini disebut dispesia tipe fungsionalBatu empeduBatu empedu adalah kumpulan dari sisa sisa zat yang tidak berguna ataupun berasal dari kolestrol. Kumparan batu ini kemuadian tertumpuk di saluran empedu manusia dan selanjutnya disebut batu empedu. Pada penderita batu empedu mereka sering mengalami nyeri dan sakit perut yang parah. Ukuran batu empedu ini bermacam macam, semakin besar batu empedu maka akan semakin berbahay bagi tubuh terjadinya batu empeduPenumpukan kolestrol, penyebab terjadinya batu empedu yang pertama ialah terdapat tumpukan kolestrol di dalam tubuh usia, faktor usia yang semakin bertambah akan meingkatkan risiko seseprang memiliki batu empedu di dalam GinjalPenyakit batu ginjal sebenarnya mirip dengan batu empedu, batu ginjal adalah batu yang terbuat dari kumparan zat zat beracun ataupun mineral yang menumpuk menjadi satu sehingga terbentuklah batu ginjal. Batu ginjal menyebabkan ginjal tidak dapat berfungsi dengan baik. Gejala yang sering dialami oleh penderita batu ginjal ialah sakit dan nyeri pada bagian pinggang dan juga penyakit batu ginjalKurangnya minum air putih, seperti diketahui bahwa mengonsumsi air putih sangat penting untuk kesehatan genetic, faktor ini memang sulit untuk dihindari namun bukan berarti kita tidak dapat mengatasi penyakit batu ginjal beberapa penyakit yang menyebabkan sakit pada perut. Selalu menjaga kesehatan agar tubuh dapat beraktivitas dengan baik. untuk menjaga kesehatan tubuh jangan lupa untuk memilih makanan yang akan dikonsumsi untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan manusia dan juga rajin berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari.
PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Cholera umumnya merupakan penyakit yang menyebar karna sanitasi yang buruk yang menyebabkan kontaminasi sumber air. Cara ini jelas merupakan mekanisme utama penyebaran penyakit cholera dalam lingkungan masyarakat miskin di Amerika selatan. Fasilitas ssanitasi yang baik dieropa dan amerika serikat mengakibatkanHalodoc, Jakarta – Kolera adalah infeksi bakteri Vibrio cholerae yang menyebabkan diare parah hingga dehidrasi. Kebanyakan kasus kolera menular akibat konsumsi air yang terkontaminasi bakteri penyebab kolera. Jika tidak segera ditangani, kolera bisa berakibat fatal hanya dalam beberapa jam saja. Maka itu, waspadai komplikasi kolera berikut. Baca Juga Gejala Seseorang Terkena Kolera yang Harus Diketahui Kenali Gejala Kolera Penyakit kolera jarang menimbulkan gejala. Hanya sekitar 10 persen pengidap yang mengalami gejala. Secara umum, gejala ini yang bisa muncul setelah konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi bakteri penyebab kolera, yaitu Mual dan muntah selama beberapa jam pada tahap awal terinfeksi bakteri. Diare dalam jangka panjang, menyebabkan hilangnya cairan tubuh dengan cepat, sekitar satu liter per jam. Biasanya diare akibat kolera menyebabkan pengidap terlihat tampak pucat. Kram perut. Terjadi akibat hilangnya kadar sodium, klorida, dan potasium dalam tubuh setelah diare berkepanjangan. Dehidrasi parah, terjadi jika diare berkepanjangan menyebabkan kehilangan cairan lebih dari 10 persen total berat tubuh. Gejala lainnya berupa mulut terasa kering, gangguan irama jantung, mata cekung, mudah marah, rasa haus berlebihan, tubuh lesu, tekanan darah rendah hipotensi, urine yang keluar hanya sedikit, serta kulit berkerut dan kering. Pada anak-anak, gejala kolera cenderung lebih berat dibandingkan orang dewasa. Pasalnya anak-anak yang terinfeksi bakteri lebih rentan mengalami kadar gula darah rendah hipoglikemia yang menyebabkan kejang, hilang kesadaran, hingga koma. Baca Juga Ketahui Penanganan Penyakit Kolera pada Anak Diare berkepanjangan akibat infeksi bakteri kolera menyebabkan hilangnya cairan tubuh dalam jumlah besar dehidrasi parah. Kondisi ini bisa berakibat fatal bagi tubuh. Lantas, apa saja komplikasi kolera yang perlu diwaspadai 1. Hipokalemia Merupakan kondisi kekurangan kalium yang menyebabkan terganggunya fungsi jantung dan saraf. Hipokalemia terjadi ketika aliran darah berada di bawah batas normal, yakni kurang dari 2,5 mmol/L. Gejalanya berupa kram perut, kesemutan, mati rasa, sembelit, mual, kembung, muntah, jantung berdebar palpitasi, frekuensi buang air kecil meningkat, rasa haus berlebih, dan kelelahan. Pengidap kolera yang mengalami hipokalemia rentan mengalami gangguan psikologis seperti depresi, delirium, bingung, atau berhalusinasi. 2. Gagal Ginjal Terjadi akibat hilangnya kemampuan ginjal untuk menyaring, sehingga sejumlah cairan dan elektrolit keluar dari dalam tubuh. Gagal ginjal ditandai dengan kelelahan, kulit kering dan gatal, kencing berdarah, kencing berbusa, pembengkakan, dan nyeri pinggang. Pengidap kolera yang mengalami gagal ginjal juga rentan mengalami syok hipovolemik. 3. Hipoglikemia Rendahnya kadar gula darah yang terjadi jika pengidap mengalami penurunan nafsu makan. Kondisi ini berbahaya karena glukosa merupakan sumber energi utama tubuh. Gejala hipoglikemia berupa lelah, pusing, bibir kesemutan, keringat berlebih, sering merasa lapar, jantung berdebar-debar, sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan pucat. Pada kasus yang parah, komplikasi ini berpotensi menyebabkan kejang, hilang kesadaran, hingga kematian. Baca Juga Bahayanya Kolera yang Bisa Berakibat Fatal Itulah komplikasi kolera yang perlu diwaspadai. Kalau kamu mengalami gejala mirip kolera, jangan ragu berbicara dengan dokter Halodoc. Kamu hanya perlu membuka aplikasi Halodoc dan masuk ke fitur Talk to A Doctor untuk menghubungi dokter kapan saja dan di mana saja via Chat, dan Voice/Video Call. Yuk, segera download aplikasi Halodoc di App Store atau Google Play! Penderitapenyakit kolera ini biasanya mengalami kram pada perut, mual mual dan juga muntah. Penyebab penyakit kolera Bakteri, kolera disebabkan oleh bakteri yaitu vibrio cholera. Tertular oleh penderita kolera, penyakit kolera ini adalah penyakit yang dapat menular. Bakteri kolera ini dapat menular melalui perantara air.
Epidemiologi Penyakit Menular Kolera. Kolera atau biasanya disebut dengan penyakit tahunan Asiatic Cholera adalah suatu infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri ini biasanya masuk kedalam tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi oleh sanitasi atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak dengan benar atau mentah. Bakteri ini juga sensitif terhadap asam lambung, maka penderita yang mengalami asam lambung cenderung menderita penyakit ini. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for free MINI SKRIPSI KOLERA Dosen Pengampu Dr. dr. Wulan Pingkan Julia Kaunang Grad. Dip., DK. Disusun Oleh Kelompok 21 D Virginia Kusywoyo 211111010171 Yuliana Palempung 211111010174 PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SAM RATULANGI 2022 iii KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan berkat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas akhir Mini Skripsi yang berjudul “Kolera Vibrio Chlorea” tepat pada waktunya. Pada kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Epidemiologi Penyakit Menular oleh Dr. dr. Wulan Pingkan Julia Kaunang Grad., Dip., DK. Yang telah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami dapat mengkaji dan dapat memperoleh pengetahuan dari penulisan Mini Skripsi ini. Kami mengetahui bahwa tugas akhir Mini Skripsi masih jauh dari kata sempurna. Ole karena itu, kritik dan saran yang membangun dapat membantu kami menjadi lebih baik. Harapan kami kiranya Mini Skripsi ini dapat memberikan manfaat untuk kami dan juga orang-orang yang akan membacanya. Manado, 1 Desember 2022 Penulis iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR iii DAFTAR ISI iv BAB I DEFINISI PENYAKIT KOLERA 5 BAB II EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KOLERA 6 BAB III ETIOLOGI PENYAKIT KOLERA 8 BAB IV KLASIFIKASI PENYAKIT KOLERA 10 BAB V PATOFISIOLOGI PENYAKIT KOLERA 12 BAB VI PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN 14 DAFTAR PUSTAKA 16 5 BAB I “DEFINISI KOLERA” Kolera atau biasanya disebut dengan penyakit tahunan Asiatic Cholera adalah suatu infeksi usus yang disebabkan oleh bakteri Vibrio Cholerae. Bakteri dari kolera tersebut menghasilkan racun yang bisa menyebabkan usus halus melepaskan sejumlah besar cairan yang mengandung garam dan mineral. Bakteri ini juga biasanya masuk kedalam tubuh melalui air minum atau makanan yang terkontaminasi oleh sanitasi atau dengan memakan ikan yang tidak dimasak dengan benar, terutama kerang. Bakteri ini juga sensitif terhadap asam lambung, maka penderita yang mengalami asam lambung cenderung menderita penyakit ini. Kolera dapat ditemukan di berbagai negara seperti Asia, Timur tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Di daerah-daerah tersebut, wabah ini biasanya terjadi selama musim panas dan banyak menyerang anak-anak. Di negara lain, wabah ini bisa terjadi pada semua musim dan juga pada semua usia. Irianto, 2014 Menurut WHO, keadaan yang harus diduga jika terjadi penyebaran penyakit kolera yaitu 1. Daerah yang sebelumnya tidak terdeteksi adanya kolera lalu terdapat seorang penderita berusia 5 tahun atau lebih mengalami dehidrasi berat akibat diare akut. 2. Disuatu daerah yang pernah mengalami epidemi kolera, dimana ada seseorang yang berusia 5 tahun mengalami gangguan pencernaan seperti diare cair dengan atau tanpa muntah Ekawati, 2018. Agen penyebab dari penyakit ini awalnya dijelaskan pada tahun 1854 oleh Filippo Pacini, kemudian dilanjutkan oleh Robert Koch pada tahun 1884. Diperkirakan setiap tahun ada 1,3 – 4 juta kasus kolera yang terjadi, dan – kematian dari penyakit ini diseluruh dunia. 6 BAB II “EPIDEMIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Pada tahun 1997 kolera ini dikenal sebagai 7 pandemi yang penyebarannya mencapai eropa. Vibrio yang bertanggung jawab terhadap terjadinya pandemi ke-7 adalah vibrio cholera 0I, biotipe El-Tor. Pandemi ke-7 dimulai pada tahun 1961 ketika vibrio pertama kali muncul hingga menyebabkan epidemi kolera di sulawesi, indonesia. Penyakit ini menyebar dengan cepat ke asia timur dan mencapai bangladesh pada tahun 1963, india pada tahun 1964, iran, iraq pada tahun 1965 – 1966. Pada tahun 1970 kolera menyebar di afrika barat, suatu wilayah yang belum pernah mengalami penyakit ini lebih dari 100 tahun. Penyakit ini menyebar dengan cepat ek beberapa negara dan menjadi endemik pada banyak benua. Pada tahun 1991, kolera menyerang amerika latin, dimana penyakit ini juga telah hilang selama satu abad. Dalam waktu setahun penyakit ini kembali menyebar ke 11 negara dan secara cepat menyebar lintas benua. Sampai tahun 1992, hanya serogrup vibrio cholerae OI yang menyebabkan endemi kolera. Serogrup lainnya dapat menyebabkan kasus – kasus diare yang sporadis, tapi tidak menyebabkan endemi. Pada akhir tahun 1992 ledakan kasus 7 kolera dimulai di india dan bangladesh yang disebabkan oleh serogrup OI39 atau bengal. Keadaan ini dikenal dengan pandemik ke-8. Isolasi dari vibrio ini telah dilaporkan dari 11 negara di asia tenggara. Namun masih belum jelas apakah vibrio cholerae OI39 akan menyebar kedaerah/wilayah lain, dan pengawasan epidemiologik yang cermat dari situasi ini sedang dilakukan. Menurut data epidemiologi global, kolera lebih sering ditemukan di negara berkembang. Insiden penyakit ini di negara industrial tela menurun karena adanya sistem sanitasi pengolahan air yang bersih. Angka kejadian kolera yang pasti juga sulit diketahui karena mayoritas insidennya terjadi di area terpencil di negara berkembang yang tidak memiliki sistem diagnosis dan pelaporan. Global Berdasarkan data WHO, terdapat 1,2 juta kasus kolera pada tahun 2017 dengan angka fatalitas sebesar di seluruh dunia. Sekitar 84% kasus kolera global dan 41% kematian akibat kolera di seluruh dunia dilaporkan di Yemen. Jumlah kasus dalam laporan WHO ini masih belum menyeluruh karena masih banyak negara yang belum melaporkan kejadian kolera. Hal ini diduga terjadi karena kurangnya sistem surveilans dan adanya penutupan kasus kolera oleh negara tertentu untuk mencegah penurunan turisme dan industri ekspornya. Indonesia Kejadian Luar Biasa KLB kolera yang pernah dilaporkan di Indonesia tercatat terjadi pada bulan April – Agustus 2008 di Kabupaten Paniai dan Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Kejadian ini memakan korban sampai 105 jiwa. Setelah itu, tidak didapatkan laporan terbaru mengenai jumlah kasus kolera di Indonesia hingga saat ini. Mortalitas Sebelum adanya regimen penggantian cairan dan elektrolit yang baik, mortalitas kolera mencapai >50%. Namun, mortalitas tersebut dapat ditekan menjadi <1% bila ada pemberian terapi yang cepat. 8 BAB III “ETIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Etiologi kolera adalah bakteri Vibrio cholerae yang menular pada manusia melalui rute fekal-oral. Bakteri ini menghasilkan enteroksin yang dapat memicu diare sekretorik akut profus. Infeksi Vibrio cholerae dikaitkan dengan sistem sanitasi yang buruk, dimana transimisi utama terjadi melalui air atau makanan yang terkontaminasi. Vibrio cholerae merupakan bakteri basil gram negatif yang bersifat aerobik atau anaerobik fakultatif. Bakteri ini memiliki bentuk seperti tanda koma, panjang 1 – 3 µm, dan diameter 0,5 – 0,8 µm. Struktur antigennya terdiri dari antigen flagel H dan somatik O. Dari sekitar 200 jenis Vibrio cholerae yang telah teridentifikasi, vibrio cholerae O139 merupakan jenis yang berkaitan dengan kejadian epidemi. Serogrup O1 kemudian diklasifikasikan berdasarkan serotipenya, yaitu Inaba, Ogawa, atau Hikojima. Selain itu, serogrup O1 juga dapat diklasifikasikan berdasarkan biotipenya, yaitu biotipe klasikal dan El Tor. Faktor Resiko Faktor resiko kolera adalah komunitas yang memiliki sistem pengolahan air bersih yang buruk atau standar sanitasi personal maupun komunitas yang rendah. Secara umum, faktor resiko dapat ditelaah lebih lanjut sebagai faktor lingkungan dan faktor pejamu. a Faktor Lingkungan 9 Ekosistem utama Vibrio cholerae adalah perairan terutama laut, dimana bakteri ini hidup secara komensal dengan plankton krustasea yang berperan sebagai organisme pejamu normalnya. Risiko infeksi dapat meningkat karena peningkatan jumlah mikroba akibat perubahan cuaca, suhu air, salinitas air, konsentrasi nutrisi, dan jumlah alga. b Faktor Pejamu Kondisi malnutrisi meningkatkan resiko terinfeksi kolera. Selain itu, peran asam lambung dalam menghambat inokulasi V. Cholerae sebelum mencapai usus juga cukuo penting. Pasien yang mengalami perubahan asam lambung akibat infeksi H. Pylori, gastrektomi, penggunaan bloker histamin, atau penggunaan inhibitor pompa proton memiliki risiko terinfeksi kolera lebih tinggi. Individu dengan golongan darah O juga lebih rentan terinfeksi kolera tetapi mekanismenya belum diketahui dengan jelas. 10 BAB IV “KLASIFIKASI PENYAKIT KOLERA” Vibrio cholerae merupakan salah satu bakteri paling banyak yang terdapat pada permukaan air yang terkontaminasi limbah industri dan limbah rumah tangga. Bakteri ini bersifat gram negatif berbentuk basil batang bengkok, bersifat aerob dan motil, serta mempunyai satu flagel kutub. Menurut Khairie, 2013, yang menyebabkan penyakit kolera pada manusia adalah jenis serogrup 01 dan 0139. Bakteri mempunyai klasifikasi sebagai berikut Kingdom Bacteria Filum Proteobacteria Ordo Vibrionales Kelas Gamma proteobacteria Family Vibrionaceae Genus Vibrio Spesies Vibrio cholerae Aditia, 2015 dikelompokkan menjadi dua tipe, yaitu serotype dan biotype. Pada tipe serotype, bakteri V. Cholerae memiliki kemmapuan mengaglutasi antisera polyvalent O. Antisera polyvalent O terbagi atas tiga tipe, yaitu 1 Serotype Ogawa AB 2 Serotype Inaba AC 3 Serotype Hikojima ABBC 11 Sementara untuk biotype, bakteri ini dibagi lagi berdasarkan sensitifnya terhadap bakteriofaga, yaitu 1 Biotype Klasikal 2 Biotype El-Tor Widyastana, 2015 Berdasarkan variasi antigen, genomic, dan toksisitasnya V. Cholerae dibagi lagi kedalam 30 strain Moat et al., 2002. V. Cholerae serogrup 01 dibagi atas biotype klasikal adalah penyebab penyakit kolera atau asiatik kolera. Biotype El-Tor ini juga menghasilkan hemolisin selain menghasilkan toksin, hemolisin yang dihasilkan juga merupakan suatu protein yang dapat menyebabkan helisis darah sehingga pasien penderita diare mengalami diare yang berdarah Widyastana, 2015. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri V. Cholerae grup non 01 ini dianggap tidak begitu berbahaya karena bakteri V. Cholerae grup non 01 ini hanya menyebabkan diare yang ringan pada penderita Widyastana, 2015. Namun, pada tahun 1991 dunia dikejutkan dengan adanya wabah kolera di Bangladesh dan India yang disebabkan oleh bakteri V. Cholerae grup non 01 yang memproduksi toksin seperti grup 01. 12 BAB V “PATOFISIOLOGI PENYAKIT KOLERA” Gejala dimulai dari 1-3 hari setelah terinfeksi bakteri, mulai dari diare ringan tanpa komplikasi sampai pada diare berat yang bisa berakibat fatal. Ada beberapa orang yang tidak menunjukkan gejala saat terinfeksi. Kolera biasanya dimulai diare terasa encer seperti air yang terjadi secara tiba – tiba, tanpa adanya rasa sakit dan muntah – muntah. Namun, pada kasus yang berat dalam 1 jam seseorang dapat kehilangan 1 liter cairan hanya dkarenakan diare. Pada orang yang fesesnya ditemukan adanya bakteri kolera mungkin dalam 1-2 minggu belum merasakan keluhan, namun saat terjadi serangan infeksi maka bisa terjadi diare dan muntah dengan kondisi yang cukup serius sebagai serangan akut untuk menyamarkan jenis diare yang dialami. Akan tetapi pada penderita yang mengalami kolera ada beberapa tanda dan gejala yang dapat diketahui, yaitu 1. Diare yang encer seperti air dan berlimpah tanpa rasa mulas. 2. Kotoran tinja atau feses yang semula berbau dan berwarna berubah menjadi cairan putih keruh tanpa bau amis atau busuk, melainkan seperti manis yang menusuk. 3. Feses cairan yang memiliki tampilan seperti air cucian beras bila di endapkan akan mengeluarkan gumpalan-gumpalan yang berwarna putih. 13 4. Diare terjadi sampai berkali-kali dan dalam jumlah yang banyak dalam satu waktu. 5. Muntah setelah didahului diare yang terjadi, namun pada penderita tidak merasakan mual sebelumnya. 6. Terjadinya kejang di area perut bisa juga dirasakan dengan disertai nyeri yang sangat hebat. 7. Banyaknya cairan yang keluar dapat membuat dehidrasi dengan tanda-tandanya seperti detak jantung yang terasa cepat, mulut terasa kering, fisik lemah, mata cekung, dan lain-lain bila tidak segera dilakukan penanganan sebagai pengganti cairan dalam tubuh yang hilang maka dapat mengakibatkan kematian. Gejala kolera pada anak-anak lebih berat dibandingkan dengan orang dewasa. Anak-anak yang terserang kolera rentan terkena hipoglikemia gula darah rendah, yang bisa menyebabkan kejang dan kesadaran mengalami penurunan. 14 BAB VI “PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN” A. Pencegahan Penyakit Kolera Cara pencegahan dan untuk memutuskan tali penularan penyakit adalah dengan melakukan sanitasi lingkungan, terutama kebersihan air dan pembuangan kotoran feses pada tempat yang memenuhi standar lingkungan. Setelah sanitasi lingkungan, selanjutnya ada meminum air yang sudah dimasak terlebih dahulu, cuci tangan dengan bersih sebelum makan memakai sabun/antiseptik, cuci sayuran yang dimakan mentah seperti lalapan, hindari makanan seperti ikan dan kerang yang masih setengah matang. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memutus mata rantai penularan penyakit tersebut, yaitu Tidak membeli makanan yang kebersihannya tidak terjamin Gunakan air yang sudah terjamin kualitasnya untuk memasak Tidak mengkonsumsi susu segar yang belum diolah Minum yang telah dimasak hingga mendidih atau minum air mineral dalam kemasan Mencuci bersih buah dan sayur sebelum dimakan Imunisasi dengan vaksin komersil standar yaitu vaksin cholera sec yang mengandung 10 milyar vibrio mati per mL, memberikan proteksi 60-80% untuk masa 3 – 6 bulan. Vaksin tidak berpengaruh pada karier dalam pencegahan 15 penularan sehingga vaksinasi kolera tidak lagi menjadi persyaratan sertifikat kesehatan internasional. Imunisasi dengan toksoid pada manusia tidak memberikan perlindungan yang berarti dalam mencegah kolera. B. Pengobatan Penyakit Kolera Penanganan utama untuk penderita kolera adalah dengan mencegah dehidrasi. Penderita yang mengalami penyakit kolera harus segera mendapatkan penanganan segera, yaitu dengan memberikan pengganti cairan tubuh yang hilang sebagai langkah awal. Pemberian cairan dengan cara Infus/Drip adalah yang paling tepat bagi penderita yang banyak kehilangan cairan baik melalui diare atau muntah. Selanjutnya adalah pengobatan terhadap infeksi yang terjadi, yaitu dengan pemberian antibiotik/antimikroblal seperti Tetrasiklin, Doxycycline atau golongan Vibramicyn. Pengobatan antibiotik ini dalam waktu 48 jam dapat menghentikan diare yang terjadi. Pada kondisi tertentu, terutama diwilayah yang terserang penyakit kolera pemberian makanan/cairan dilakukan dengan cara memasukkan selang dari hidung ke lambung sonde. Sebanyak 50% kasus kolera yang tergolong berat tidak dapat diatasi meninggal dunia, sedangkan jumlah 1% penderita kolera yang mendapat penanganan kurang adekuat meninggal dunia. 16 DAFTAR PUSTAKA Connor, B., et al. 2019. Cholera in Travellers A Systematic Review. Journal of Travel Medicine. 26 8, pp. 1 – 8. Dr. Pittara. 2022. Kolera. Online [diakses 1 Desember 2022 Davies HG, Browman C, Luby SP. 2017. Cholerae – Management and Prevention. Journal of Infection. 74 1 66 – 73. Handa S. 2018. Cholera Medscape. Online [diakses 1 Desember 2022] Irianto, Koes. 2013. Epidemiologi Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review Study. International Journal of Infection. 1 1 e18303. Medkes, 2014. Gejala, Penyebab, dan Pengobatan Kolera. Online [diakses 1 Desember 2022]. R Fauziah, 2015. Epidemiologi Penyakit Menular-Kolera. Online [diakses 1 Dessember 2022] ResearchGate has not been able to resolve any citations for this to cholera is a risk for individuals and groups traveling to endemic areas, and the bacteria can be imported to cholera-free countries by returning travellers. This systematic review of the literature describes the circumstances in which cholera infection can occur in travellers and considers the possible value of the cholera vaccine for prevention in travellers. PubMed and EMBASE were searched for case reports of cholera or diarrhoea among travellers, with date limits of 1 Jan 1990 to 30 April 2018. Search results were screened to exclude the following articles diarrhoea not caused by cholera, cholera in animals, intentional cholera infection in humans, non-English articles, and publications on epidemics that did not report clinical details of individual cases and publications of cases pre-dating 1990. Articles were reviewed through descriptive analytic methods and information summarized. We identified 156 cases of cholera imported as a consequence of travel, and these were reviewed for type of traveller, source country, serogroup of cholera, treatment and outcomes. The case reports retrieved in the search did not report consistent levels of detail, making it difficult to synthesize data across reports and draw firm conclusions from the data. This clinical review sheds light on the paucity of actionable published data regarding the risk of cholera in travellers and identifies a number of gaps that should drive additional effort. Further information is needed to better inform evidence-based disease prevention strategies, including vaccination for travellers visiting areas of cholera-risk. Modifications to current vaccination recommendations to include or exclude current or additional traveller populations may be considered as additional risk data become available. The protocol for this systematic review is registered with PROSPERO registration number 122797.Cholerae -Management and PreventionH G DaviesC BrowmanS P LubyDavies HG, Browman C, Luby SP. 2017. Cholerae -Management and Prevention. Journal of Infection. 74 1 66 Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review StudyKoes IriantoIrianto, Koes. 2013. Epidemiologi Penyakit Menular & Tidak Menular Panduan Klinis. Bandung. Penerbit Alfabeta Bandung Mood BS, Metanat M. Diagnosis, Clinical Management and Prevention, and Control of Cholera A Review Study. International Journal of Infection. 1 1 Penyakit Menular-KoleraR FauziahR Fauziah, 2015. Epidemiologi Penyakit Menular-Kolera. Online [diakses 1 Dessember 2022]